Memberikan pengasuhan dan akses pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak pekerja migran Indonesia

Memberikan pengasuhan dan akses pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak pekerja migran Indonesia

Pemisahan orangtua-anak merupakan salah satu dampak dari migrasi kerja, yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik, kognitif, mental dan emosional anak. Program pengasuhan anak berbasis komunitas dibentuk pemerintah Indonesia untuk memberikan layanan pengasuhan dan pendidikan yang berkualitas serta terjangkau bagi anak-anak pekerja migran saat mereka harus bekerja di luar negeri.

Indonesia merupakan salah satu negara pengirim pekerja migran terbesar di Asia. Indonesia adalah negara pengirim kedua terbesar setelah Filipina di kawasan Asia Tenggara. Para pekerja migran Indonesia menyumbangkan kontribusi yang sangat besar terhadap perekonomian nasional.

Namun, saat mengejar peluang-peluang ekonomi ini, para pekerja migran harus meninggalkan anak-anak mereka. Tanpa kehadiran orangtua ditambah tantangan kehidupan pedesaan kerapkali mengakibatkan anak-anak ini rentan terhadap risiko kekurangan pendidikan dan kesehatan.

Untuk mengatasi dampak migrasi terhadap keluarga pekerja migran, Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia mengembangkan program pengasuhan berbasis komunitas bagi anak-anak pekerja migran Indonesia. Proram ini merupakan pilar ketiga dari program Desa Migran Produktif (Desmigratif) yang diluncurkan pada 2017.

Ketiga pilar lainnya adalah layanan informasi ketenagakerjaan dan migrasi, pengembangan kegiatan ekonomi produktif bagi pekerja migran dan keluarga serta pengembangan koperasi/keuangan mikro. Keempat pilar ini merupakan bagian dari upaya untuk memberikan perlindungan yang lebih baik bagi para pekerja migran dan keluarga mereka sejak dari daerah asal.

Kementerian Ketenagakerjaan menyambut baik dukungan kerjasama dari berbagai pihak terkait untuk mendukung program Desmigratif ini, termasuk dari ILO. Salah satu dukungan yang diberikan ILO adalah pengembangan modul pelatihan pengasuhan berbasis komunitas dan penyelenggaraan lokakarya pada Juli 2018 untuk memfinalisasi modul ini dengan Jember, Jawa Timur, sebagai daerah percontohan.

Modul pelatihan bertajuk “Pengasuhan Kolaboratif berbasis Komunitas bagi Anak-anak Pekerja Migran” disusun bekerjasama dengan Tanoker Ledokombo. Modul ini dikembangkan untuk memberdayakan anggota keluarga dan masyarakat sekitar agar bersama-sama memberikan pola asuh positif dan memberikan dukungan yang diperlukan kepada anak-anak.

Tanoker merupakan organisasi setempat yang terfokus pada memberikan layanan bagi anak-anak pekerja migran melalui pendidikan dan pengembangan keterampilan. Tanoker telah menjalankan pusat belajar bagi pekerja migran dan anak-anak mereka dan kini menjadi rumah kedua bagi sekitar 500 anak di Ledokombok, Jember.

Maria Magdalena, Penasihat Menteri Ketenagakerjaan untuk Pekerja Migran, mengatakan bahwa Indonesia mengalami bonus demografi pada 2030 dan anak-anak pekerja migran adalah generasi Indonesia selanjutnya. “Pola asuh yang baik dan positif menjadi kunci masuk dalam melengkapi generasi selanjutnya dengan kemampuan yang diperlukan untuk mampu bersaing dalam kompetisi global,” kata dia.

Menegaskan pentingnya modul pelatihan ini, dia berharap modul ini dapat dipergunakan secara luas dalam program-program Desmigratif dan akan bermanfaat bagi komunitas migran. “Kami menghargai prakarsa ILO untuk mendukung program ini melalui pengembangan modul pelatihan pengasuhan kolaboratif,” ia menambahkan. (*)